"Hey guys, please enjoy reading my blog. Sorry for any mistakes. Just practicing my written and english skill. Thanks!" :)

Jamur

Ih, sialan. Aku merinding banget liat jamur.
Apalagi yang jenisnya merembet – rembet.
Urgh. Pori – pori kulitku membusung dah, membentuk motif polkadot yang tak begitu kentara.
Mengembang kempis bak paru – paru sesek napas. Trus bawaannya pengen kabur aja.
Gak jarang jadi ngerasa gatel – gates sendiri. Berasa kayak gak mandi berabad – abad.
Digaruk – garuk bikin jalur merah yang lama – lama kerasa perih juga. Uuuuh, sebel.
Bentuknya seperti jaringan yang .... Hmmm, jangan paksa aku buat cerita panjang lebar.
Karena disini aku udah membuat pose ngetikku menjadi tidak lazim (tidak akan aku ceritakan. Weeekk xp).
Yah, aku juga baru tau akhir – akhir ini kalo aku takut sama jamur. Lebih kearah jijik sih sebenarnya.
Gak tau kenapa parno aja ngeliatnya. Yang kebayang di awang perawanganku adalah monster serupa amoba jahat yang memiliki kaki semu (psedopodia) yang senantiasa merembet – rembet dengan rakusnya.
Menggapai – gapai seakan mencari tempat empuk untuk bersinggah. Padahal mungkin jalur hidupnya bukan di tubuh manusia, wong adanya di tempat – tempat lembab kok (bukan jamur sejenis panu, kadas, kurap lho*). Hiiiii, pokoknya membayangkannya aja aku dah bergidik ngeri (tuh kan, malah tambah heboh garuk – garuknya*)
Heran banget aku, itu jamur model apa sih. Kayak jalan – jalan gitu. Kemaren liatnya dimana, besoknya kelihatan dimana. Hiiii, gak lagi – lagi deh aku lihat tuh jamur geje. Hiiii (makin merinding aja ni aku*)

Brownis


Kapan hari aku dapet temen baru. Dia temen daerah rumahku. Dan kebetulan dia adalah mahasiswi Teknik Informatika ITS (wow, keren yah. haha). Dia dua bersaudara dan kebetulan dia juga anak sulung sama sepertiku. Dia punya adik cowok dan yang lebih mencengangkan lagi. Adeknya yang cowok itu juga keterima jadi mahasiswa fakultas dan institut yang sama dengan kakak ceweknya itu. Hoaw, tambah iri deh. Tapi yang mau aku ceritain disini bukan betapa irinya aku dengan status kemahasiswaan mereka (aku bangga kok jadi mahasiswa fakultas farmasi UNAIR), tapi tentang brownies. Heeehh? Apa hubungannya? Ada dong hubungannya, tinggal di hubung – hubungin aja. Beres kan (mulai geje*).
Oke,mulai serius. Kapan hari (lagi*), temen baruku ini berbagi ilmu tentang “bagaimana/tata cara membuat brownis”. Dan sedikit mau pamer, ilmu baruku itu barusaja aku praktekkan di rumah. Yup, aku bikin brownis sendiri. Wenak lho, mantab lho. Hayoooo...

“Ealah, gitu ae bangga”

Lho iya dong, jarang – jarang EkaK yang baik hati, suka menolong, rajin menabung deelel ini bisa masak. Dan herannya gara – gara belajar bikin brownis, aku jadi sering ngumpulin resep – resep masakan. Haha... Yah, moga aja ini awal mula terbentuknya hobi baruku yaitu masak (Amin).


Sebenarnya dulu aku punya cita – cita punya resto sendiri lho. Sayangnya, karena kesibukanku yang tiada tara (halah, sibuk lapo?), mengurungkan niatku tuk belajar masak. Hehe
Tapi sekarang aku sadar (alhamdulillah, akhirnya), biarpun jaman sudah berubah, dan emansisapi emansipasi wanita sudah merajalela dimana – mana, tapi yang namanya cewek pinter masak itu adalah suatu nilai plus yang tiada dua, tiga, dan empatnya. Apalagi jaman sekarang, dimana – mana mol, dimana – mana resto, wehwehweh, hidup kita udah dimanja aja. Berbagai junk food dimane – mane. Dan yang namanye penyakit udah berkembang biak, bahkan spesiesnya makin bertambah. Nah, kalo kita jago masak dan pinter milih – milih menu yang enak tapi sehat, bagus tho!!! Benul kan... Sekalian antisisapi antisipasi dan menjaga kesehatan sejak dini (wez kayak iklan ae).

“Lhah, malah curhat???”

Oia, ampe lupa sama judulnya. Okeh – okeh, back to the topic. Yah, jadi intinya saya sudah berhasil membuat karya yang lumayan lah. Walau pun bentuknya masih belum layak jual. Hehe... Yah, perlu latihan lagi biar lebih maknyoooosssss. Siph-siph. --a

Daddy and Mommy

Dad, aku tau semua ketulusanmu.
Hanya saja sering kali ku lupa tuk memahaminya.
Mengingatnya kembali, tuk segarkan betapa mimpiku kudedikasikan untukmu.
Kutujukan untukmu dan bunda terbaik diseluruh dunia.
Aku sempat berhasil mnyusun tekad bulat yang memantapkan jiwaku.
Namun, seringkali memudar.
Kembang kempis dialun waktu.
Mimpi untukmu, yang slalu kunomori satu.
Sebagaiman kalian berikan nama itu untukku.
Dad, aku kembalikan jalanku pada mimpi terbesarku.
Meyakini kembali bahwa asa itu memang mampir dalam otakku saat ini.
Berusaha tuk terus bersinar meski waktu terus bergulir.
Karena aku melihat senyum itu.
Senyum nyata yang harus kulihat secepatnya.
Aku memang terpuruk saat ini.
Tapi aku tau, aku bisa bangkit justru karena itu.
Karena keterpurukanku.
Demi doa yang slalu kalian panjatkan untukku disetiap malam.
Untuk lapar yang kau ikhlaskan demi tulusnya doa.
Dan demi segala keistimewaan kalian sebagai orang tua.
Aku mendengar panggilan nyata tuk tak menyerah.
Bahwa, gagal itu memang kepahitan yang membuatku jatuh terpuruk.
Tapi saat aku berhasil meloloskan diri darinya, kemudian berjanji untuk tak menyerah.
Kalian harus yakin, bahwa aku mendewasakan diriku.
Dan aku harus yakinkan diriku atas mimpi utamaku.
Dimana kalian berdiri dihadapanku, dengan mengucap “kau anakku” sembari tersenyum pada dunia.

Sang Pemimpi yang Tak Berjalan

Tuhan, betapa seharusnya ku tersadar dengan semua kelimpahanmu.
Tuhan, betapa seharusnya ku berjuang untukku dan mereka.
Tuhan, betapa tak seharusnya ku mencoreng dengan kebodohan tiada tara.
Dan betapa perihnya hati saat tersadarkan oleh semua luka.
Sesaat tersadarkan oleh semua hal yang terpampang di depan mata.
Ini mengenai waktu.
Dan ini mengenai aku.
Aku yang tak mendengar apa kata mereka.
Aku yang begitu sibuk memelihara ego dan kesombongan hati.
Aku yang melupakan betapa menyedihkannya arti gagal.
Aku yang tak pernah jera berdiam.
Masih elokkah orang memandang?
Terlalu kaku.
Terlalu layu.
Dan begitu rapuh.
Aku membutakan diri dengan eloknya mimpi.
Namun hanya terbuai tanpa warna.
Tanpa laku.
Tanpa langkah.
Begitu banyak macam mimpi mengembang.
Begitu banyak.
Tak terkira oleh taraan jemari.
Tapi tetap kan menjadi mimpi tiada akhir.
Mimpi tiada wujud.
Memelihara lampau sebagai hiasan.
Bukan sebagai dorongan maut.
Apa arti kata semangat selama ini?
Jikalau masih tetap terpuruk.
Malah terbuang.
Kapan berakhir kekesalan?
Kapan berakhir murka tak terampunkan?
Kapan berakhir siksaan batin?
Aku mau kau lahir.
Menjadi pendar.

Aku Mau Ini

Yup, view-master. Mainan berbentuk seperti kamera lomo, tapi bukan. hoho..

Cara pakainya, tentu saja dengan memasukkan reelnya ke dalam view-master. Klik tuasnya. Dan tarraaaaa, gambarnya ganti - ganti.


Huhuhu, tambah pingin, ada yang mau nyumbang ke akyu?(ngarep*) haha...