"Hey guys, please enjoy reading my blog. Sorry for any mistakes. Just practicing my written and english skill. Thanks!" :)

Keajaiban Hati Emas Seorang Anak Kecil

Sambil menanti adzan sholat isya’ berkumandang, utek-utek facebook dulu ah. Memasang status “sabar yya kawan. Smangat !!!” di kotak “what ‘s on your mind?” yang selalu nampang di halaman muka. Yah, akhir-akhir ini kulihat banyak sahabat yang sedang di uji kesabarannya. Dan aku mau, mereka selalu bersemangat dan tidak putus asa. semangka, semangat kawan!!=)
Setelah memasang status, hal yang paling kusukai adalah membaca note-note sahabat yang memotivasi, memberi informasi, belajar mempermainkan kosa kata dan eits maaf tidak terlalu suka membaca note curhatan. Hehe... Btw,ada sebuah note yang bikin aku berkaca-kaca.
Silahkan dibaca...


KISAH INSPIRATIF
Istriku berkata kepada aku yang sedang baca koran. Berapa lama lagi kamu baca koran itu? Tolong kamu ke sini dan bantu anak perempuanmu tersayang untuk makan. Aku taruh koran dan melihat anak perempuanku satu2nya, namanya Sindu tampak ketakutan, air matanya banjir di depannya ada semangkuk nasi berisi nasi susu asam/yogurt (nasi khas India /curd rice). Sindu anak yang manis dan termasuk pintar dalam usianya yang baru 8 tahun. Dia sangat tidak suka makan curd rice ini. Ibu dan istriku masih kuno, mereka percaya sekali kalau makan curd rice ada cooling effect.
Aku mengambil mangkok dan berkata Sindu sayang, demi ayah, maukah kamu makan beberapa sendok curd rice ini? Kalau tidak, nanti ibumu akan teriak2 sama ayah.
Aku bisa merasakan istriku cemberut di belakang punggungku. Tangis Sindu mereda dan ia menghapus air mata dengan tangannya, dan berkata boleh ayah akan saya makan curd rice ini tidak hanya beberapa sendok tapi semuanya akan saya habiskan, tapi saya akan minta agak ragu2 sejenak akan minta sesuatu sama ayah bila habis semua nasinya. Apakah ayah mau berjanji memenuhi permintaan saya?
Aku menjawab oh pasti, sayang.
Sindu tanya sekali lagi, betul nih ayah ?
Yah pasti sambil menggenggam tangan anakku yang kemerah mudaan dan lembut sebagai tanda setuju.
Sindu juga mendesak ibunya untuk janji hal yang sama, istriku menepuk tangan Sindu yang merengek sambil berkata tanpa emosi, janji kata istriku. Aku sedikit khawatir dan berkata: Sindu jangan minta komputer atau barang2 lain yang mahal yah, karena ayah saat ini tidak punya uang.
Sindu menjawab : jangan khawatir, Sindu tidak minta barang2 mahal kok. Kemudian Sindu dengan perlahan-lahan dan kelihatannya sangat menderita, dia bertekad menghabiskan semua nasi susu asam itu. Dalam hatiku aku marah sama istri dan ibuku yang memaksa Sindu untuk makan sesuatu yang tidak disukainya.
Setelah Sindu melewati penderitaannya, dia mendekatiku dengan mata penuh harap, dan semua perhatian (aku, istriku dan juga ibuku) tertuju kepadanya. Ternyata Sindu mau kepalanya digundulin/dibotakin pada hari Minggu. Istriku spontan berkata permintaan gila, anak perempuan dibotakin, tidak mungkin. Juga ibuku menggerutu jangan terjadi dalam keluarga kita, dia terlalu banyak nonton TV dan program2 TV itu sudah merusak kebudayaan kita.
Aku coba membujuk: Sindu kenapa kamu tidak minta hal yang lain kami semua akan sedih melihatmu botak. Tapi Sindu tetap dengan pilihannya, tidak ada yah, tak ada keinginan lain, kata Sindu. Aku coba memohon kepada Sindu : tolonglah kenapa kamu tidak mencoba untuk mengerti perasaan kami.
Sindu dengan menangis berkata : ayah sudah melihat bagaimana menderitanya saya menghabiskan nasi susu asam itu dan ayah sudah berjanji untuk memenuhi permintaan saya. Kenapa ayah sekarang mau menarik/menjilat ludah sendiri? Bukankah Ayah sudah mengajarkan pelajaran moral, bahwa kita harus memenuhi janji kita terhadap seseorang apapun yang terjadi seperti Raja Harishchandra (raja India jaman dahulu kala) untuk memenuhi janjinya rela memberikan tahta, harta/kekuasaannya, bahkan nyawa anaknya sendiri.
Sekarang aku memutuskan untuk memenuhi permintaan anakku : janji kita harus ditepati. Secara serentak istri dan ibuku berkata : apakah aku sudah gila? Tidak, jawabku, kalau kita menjilat ludah sendiri, dia tidak akan pernah belajar bagaimana menghargai dirinya sendiri. Sindu, permintaanmu akan kami penuhi. Dengan kepala botak, wajah Sindu nampak bundar dan matanya besar dan bagus.
Hari Senin, aku mengantarnya ke sekolah, sekilas aku melihat Sindu botak berjalan ke kelasnya dan melambaikan tangan kepadaku. Sambil tersenyum aku membalas lambaian tangannya.
Tiba2 seorang anak laki2 keluar dari mobil sambil berteriak : Sindu tolong tunggu saya. Yang mengejutkanku ternyata, kepala anak laki2 itu botak.
Aku berpikir mungkinbotak model jaman sekarang. Tanpa memperkenalkan dirinya seorang wanita keluar dari mobil dan berkata: anak anda, Sindu benar2 hebat. Anak laki2 yang jalan bersama-sama dia sekarang, Harish adalah anak saya, dia menderita kanker leukemia. Wanita itu berhenti sejenak, nangis tersedu-sedu, bulan lalu Harish tidak masuk sekolah, karena pengobatan chemo therapy kepalanya menjadi botak jadi dia tidak mau pergi ke sekolah takut diejek/dihina oleh teman2 sekelasnya. Nah Minggu lalu Sindu datang ke rumah dan berjanji kepada anak saya untuk mengatasi ejekan yang mungkin terjadi. Hanya saya betul2 tidak menyangka kalau Sindu mau mengorbankan rambutnya yang indah untuk anakku Harish. Tuan dan istri tuan sungguh diberkati Tuhan mempunyai anak perempuan yang berhati mulia.
Aku berdiri terpaku dan aku menangis, malaikat kecilku, tolong ajarkanku tentang kasih.
Pesan Moral :
Sekecil apapun pengorbanan kita buat orang lain pasti akan mendapatkan balasan pahala dari Allah swt...
dan... satu lagi,, luruskan niat kita semata2 hanya untuk meemprolah rido dari Allah swt.
Subhannallah, dari cerita di atas kita bisa melihat kebaikan hati dari seorang anak berumur 8 tahun, yang belum tentu kita miliki. Seorang anak yang pandangannya masih belum seluas kita orang-orang dewasa, memiliki pemikiran dan keberanian yang sungguh luar biasa dalam mengatasi masalah dan mengambil keputusan yang tepat. Yang lebih membuatku haru adalah pola pikir dari seorang anak berumur 8 tahun yang ternyata bisa lebih dewasa dari orang tuanya. Kebanyakan dari kita selalu meremehkan orang-orang yang ada di bawah kita. Seperti mereka yang masih berumur dibawah kitalah, yang status sosialnya tidak sepadanlah, yang katanya kita lebih pintarlah, hanya karena kita telah mengenyam pendidikan dan lahir terlebih dahulu dari mereka. Tapi, tanpa disadari, justru kitalah yang tidak mengerti apa-apa. Kitalah yang berlaku sombong, sok angkuh, dan menutup telinga tak mau mendengarkan mereka. Padahal apa yang mereka pikirkan belum tentu hanyalah sebuah bualan belaka, belum tentu juga hanyalah ocehan bayi yang baru belajar bicara. Eits, jangan salah lhoo, lha wong seorang bayi pun dapat berbicara kok. Pernah tau bahasa tubuh? Yah, kalau tidak salah, ada sebuah situs yang pernah mengatakan bahwa gerakan-gerakan seorang bayi itu berbicara dan memiliki arti lhoo. Nah, kalau bayi saja bisa berkomunikasi masa kita tidak? Dalam berkomunikasi, bukan berarti anda harus terus berbicara, mengatur, dan menang sendiri seperti contoh orang tua diatas. Mereka tidak memperdulikan keluhan anaknya yang “tersiksa” karena makanan “sehat” pilihan orang tuanya. Sampai saatnya anak tersebut membuat perjanjian kecil dengan kedua orang tuanya agar mereka mau memenuhi permintaannya.
Oleh karena itu belajarlah memahami dan mendengarkan orang lain. Dengarkan keluhan mereka, dengarkan alasan mereka, dan belajarlah dari mereka arti hidup yang sebenarnya. Semangka !!!

3 komentar: